Sabtu, 14 Mei 2011

Keluarga yang kompak




Kalau dilihat-lihat di rumah Indah ini, suami istri kompak bekerja mengerjakan pekerjaan rumah. Pembagian kerjanya jelas banget. Indah bagian masaksedangkan suaminya cuci piring (pakai mesin). Indah bagian setrika, suaminya cuci baju. Kalau belanja mereka lakukan berdua juga berkebun. Bahkan menukang mereka lakukan berdua mulai mengecat rumah, memasang keramik, memasang wall paper, semua dikerjakan berdua. Kemarin aku baru tahu bahwa garasi di belakang itu juga dibuat sendiri oleh suaminya dibantu oleh seorang pembantu yang didatangkan dari Jakarta. Mereka berdua sudah biasa membuat kamar mandi sendiri, dapur sendiri, merombak rumah, membuat garasi.... aduh duh. Kata Indah ongkos tukang di sini mahal sekali satu jamnya bisa 60 euro. Kalau pakai tenaga yang bekerja hanya wiken (karena biasanya week day mereka bekerja di tempat lain) bayarnya 35 euro.  Bayangkan kalau setiap hari mereka menghabiskan 8 jam kali 60 euro udah 480 euro kalo dikali  7 hari jadi 3360 euro. Itung aja kalo dikurs ke dalam rupiah. Voila!

Musim semi yang tak selalu menjanjikan matahari


Tadi malam tidur enak banget. Hawa dingin membuatku tidur cepat. Masuk ke dalam selimut yang hangat langsung terlelap. Bangun-bangun sudah jam delapan pagi. Aku dengar di bawah sudah sibuk. Paling tidak, aku mendengar suara mesin cuci piring. Duh malu nih, mertamu kok bangun siang.... hehehe.  Hari ini matahari mulai sedikit bersinar. Mudah-mudahan semakin siang semakin mencorong. Tadinya aku kira yang namanya musim semi itu, matahari selalu ada setiap hari setiap jam, seperti di Indonesia, tapi ternyata tidak begitu, matahari bersinar tidak tentu.  Kadang  muncul, kadang tenggelam lagi. Kadang seharian dia tidak muncul, cuaca terlihat mendung dan hawa jadi dingin lagi. Dalam sehari saja matahari bisa muncul tenggelam. Sebentar nongol, sebentar pergi. tidak konsisten. Waduh.

Nyetir mobil sampai Skandinavia

Malam itu Indah juga bercerita setahun yang lalu, dia dan seorang temannya, bernama Ida (usianya tidak muda lagi, 60 tahun lebih) pergi ke negara Skandinavia yaitu Swedia, Finland, dan Norway dengan mengendarai mobil. Indah yang menyupir sendiri. Sementara temannya yang menjadi navigatornya. Bayangkan perjalanan ke sana memakan waktu 4 hari. Jalanan sepi hanya ada raindeer di jalan. Aku bisa membayangkan bagaimana sepi dan jauhnya perjalanan menuju negara Skandinavia itu. Setiap kali istirahat mereka tidur di mobil atau tenda, kecuali jika hujan mereka menyewa rumah buat para traveler yang harganya semalam sekitar 30 euro. Temannya yang tadinya tidak bisa membaca peta, tidak bisa melakukan pembukuan, tapi dalam waktu singkat sudah bisa membaca peta dan bahkan menjadi navigatornya.  Wah hebat juga, dalam hatiku."Tiap di persinggahan untuk istirahat kita masak sendiri, kita bawa kompor nanti masak mie instan, bikin kopi, goreng ubi. Wah seru deh," kata Indah menceritakan pengalamannya. Perjalanan jauh dengan teman tentu tidak selalu mulus. "waktu kita mau lihat ikan paus di laut lepas di Norway, kita kan harus naik kapal.  Kapalnya gak gede sih. Waktu itu pas ada badai sehingga kapal goyang begitu keras banyak penumpang kapal yang mabok dan muntah. termasuk Ida dan Indah. Wah Ida sempet marah tuh ama aku," kata Indah.  "Wah kalo tau gini gw gak mau lihat ikan paus," kata Ida sambil marah. "Waduh siapa yang nyangka kalau pas di kapal akan datang badai" , kata Indah. Tapi perjalanan jauh itu memang akhirnya banyak memberikan pembelajaran. Aku pun diperlihatkan foto-foto petualangan mereka ke negara Skandinavia. Duh...jauuuuuh dan sepi sekali, bisa gak yaa aku ke sana? Sanggup gak ya???

Serba-serbi hari

Indah juga cerita tentang tetangganya yang suka bikin onar.  Rumah tetangga sebelahnya sangat besar dan suka disewa untuk pesta dengan musik.  Kalau di sini gak bisa sembarangan mengadakan pesta dengan keramaian. Harus ada ijin dulu. Kalau tidak ijin bisa dilaporkan ke polisi. Hari ini mendung dan dingin. Sepi. Kemaren mencoba bikin lumpia. Ada bahan rebung yang dari kaleng, ayam, udang yang dibekukan, dan kulit lumpia. Bumbunya cuma lada, bawang putih, udang dan kecap manis juga sedikit maggy. Wah lumayan bisa dapet 40 biji. Baru digoreng 6 biji sisanya dimasukkan  freezer. Lebih enak lumpia kalau disajikan dengan sambal bangkok. Hm yummy kayak di restoran rasanya.Karena hari ini hawa agak dingin, kita tidak bepergian kemana-mana alias di rumah saja. Indah bikin bakso dengan bihun.  Bakso yang rada mirip soto mie. Pakai  potongan kol, tomat, cuka dan sambal botol juga bikin kacang ijo. Hm.. segar juga dimakan di hawa yang masih dingin dan agak mendung. Temperatur di luar mungkin hanya 12 derajat.

Ngobrol dengan Indah



Mertuanya indah yang sudah berusia 101 tahun pun, masih suka mengganti bunga di kebunnya setiap musim semi. Di sini aku sering melihat orang-orang tua yang hidup di rumah jompo masih suka berjalan kaki membeli bunga, perg ke supermarket, atau sekedar menghirup hangatnya sinar mentari. Mereka masih aktif. Malah di Monschau aku melihat nenek-nenek naik moge.  Waduh hebat semangatnya masih menyala-nyala.  Mereka masih aktif bahkan sangat menikmati hidupnya.Jika matahari bersinar terang, Indah bilang dia gak mau berada di dalam rumah. "Sayang kan. Aku lebih suka berkebun atau sekedar minum kopi di backyard," katanya. "Kalau kena sinar matahari kulit jadi gak pucat, badan juga jadi kuat" tambahnya lagi





Begitulah saat matahari bersinar dan temperatur 22 atau 23 derajat celsius, kita biasa duduk atau makan di backyard. Biasanya kita ngobrol ngalor ngidul. Tentang hidup tentang spiritual tentang tanaman, ah banyak sekali. Tapi salah satu yang menarik, saat dia cerita tentang bagaimana nanti kalau dia mati. "Aku masih gak kepikir loh nanti kalau mati mau dikubur atau dikremasi. Kalau dikremasi nanti abunya dikemanain ya??," katanya geli.  "Aku juga suka berkhayal kalau nanti mati nanti mau diiringi musik yang ini. eh tapi kalau denger lagu enak yang lain, jadi berubah lagi. hehe," ujarnya lagi.  "Pernah suatu hari aku bilang ke Riana dan Chiel, nanti kalau mama mati dan kalau mau dateng ke rumah pake tanda ya biar kalian tahu. Tandanya lampu kedip-kedip," kata indah sambil ketawa. "Eh Riana langsung jawab, Nee Mama!. Terus si Chiel bilang, kalau dateng jangan sering-sering," kata Indah geli. "Kok didatengin malah gak mau yaa. hehe,"  kata Indah menahan tawa. Indah juga bilang, di sini banyak orang yang mendonasikan tubuhnya setelah mati untuk orang-orang yang membutuhkan agar orang yang membutuhkan itu bisa melanjutkan hidupnya. Tapi kata indah, dia gak mau atau belum mau seperti itu. Karena dia gak rela kalau bagian dari tubuhnya nanti  akan didonasi kepada  orang yang salah.




Cuaca masih suka gak konsisten. Kemaren hawa hangat matahari bersinar. Sekarang hawa jadi dingin. Biasanya pagi-pagi udah mandi tapi hari ini malas sekali. Bangun juga tadi kesiangan. Biasanya jam 7 pagi udah turun. Tadi pagi jam sembilan pagi baru turun. Gak enak sama tuan rumah yang udah mulai beraktifitas... hehehe. Indah udah mulai melakukan pekerjaan kantornya yang dikerjakan di rumah. Chiel mulai berkebun.  Turun  ke bawah aku sarapan pop mie. Tapi hanya separoh. Terus aku memanaskan nasi yang kuambil dari kulkas dan tempe santan cabe ijo  pete, dan oseng kacang panjang di microwave. Dan seperti biasa, teh green tea.Tadi Indah cerita, makelaar rumahnya datang.  Harga tanah di Hilversum makin hari makin naik.  Kalo tadinya setahun 15.000 euro.  Sekarang mau naik jadi 18 atau 20.000 euro setahunnya. Bussettt mahal banget. Berapa tuh kalo di kurs ke rupiah??  Suatu saat nanti memang rumah ini akan dijual. Sebelum dijual rumah akan dibagusin dulu, biar harganya bisa naik dan juga bagus.  Untuk itu Indah dan suaminya, menambah lagi kamar mandi di ruang kerja dan dapur yang semuanya dikerjakan sendiri. Bayangin memasang tegel sendiri, memasang kloset, memasang wastafel, kran sendiri. Aduuh hebatnya. Jadinya rapih sekali seperti buatan tukang profesional. Salut deh.


Selasa, 10 Mei 2011

Maastricht






Sepanjang jalan menuju Maastricht, aku melihat rumah-rumah bak di negeri dongeng cantik dan rapi dengan pemandangan lembah hijau yang menawan. Memasuki kota Maastricht... aku merasa kota ini hampir mirip dengan Amsterdam. Tapi di sini lebih bersih. Kota Maastricht dilewati oleh sungai Maas. Dari pinggir sungai Maas ini kita duduk menikmati bitterbalen, potongan keju, kroket. Udara hangat saat tenggorokan diguyur crystal clear dan jeruk nipis....hm segar. Dari sini kita bisa melihat kapal-kapal yang berlayar di sungai,  kapal resto yang ada di pinggir sungai....burung-burung yang berterbangan, bebek-bebek yang berjalan di pinggir sungai.... pasangan tua muda berjalan atau hanya sekedar duduk bercengkrama di pinggir sungai sambil menikmati hangat sinar matahari (padahal sudah jam 7 malam) tapi karena musim semi jadi terangnya lebih lama. Di Maastricht ini kita melewati pertokoan dan gang-gang di tengah kota. Karena hari minggu toko-toko semua tutup, tapi restoran buka. Di gang-gang dalam pertokoan banyak sekali cafe atau resto yang dipadati pengunjung. Apalagi kedai ice cream waduh banyak sekali yang mengantre. Dari Maastricht kita pulang ke rumah



Epen, Surga yang Lain.






Dari Monschau meluncur lagi menuju lembah di sekitar Epen. Kita jalan kaki masuk ke dalam daerah dengan bunga-bunga boterblum yang sedang bermekaran berwarna kuning. Mengingatkanku pada film little house on the prairie. Baru kali ini aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri hamparan boterblum yang cantik. Sejauh mata memandang hanya bunga-bunga boterblum yang menghampar indah. Rasanya hati begitu bergetar. Seumur hidup baru melihat pemandangan begitu cantik.  Di lapangan rumput yang menghampar ada bangku dan meja kayu kosong, kita pun mengaso membuka bekal di situ. Makan di tengah alam terbuka....rasanya sudah berabad-abad gak pernah menikmati lagi suasana seperti ini. Di tempat ini lembah di daerah Epen ini kalau musim semi atau musim panas banyak sekali yang datang untuk sekedar berjalan kaki menikmati alam yang indah dan hangatnya sinar matahari. Mereka ndeprok di rumputan sambil menikmati ice cream, atau sekedar duduk-duduk saja menghirup segarnya udara musim semi. Setelah puas menikmati alam terbuka yang indah, kita meluncur lagi ke Maastricht