Rabu, 11 April 2012

Ke Benningbroek

 



Setelah puas jalan-jalan di Volendam kita mengantarkan Nani ke rumah Ida di Benningbroek, Hoorn. Rumah di Benningbroek ini beda lagi semua masih berbau tradisional.  Gaya-gaya rumah para peternak/pertanian (bouderij).  Rumah Ida berada di pinggir jalan, tapi kebun di belakangnya besar sekali dengan rumput terhampar luas. Belum lagi aneka pohon pear, plum, apel, pohon walnut, bessen, sampai rabarber  semua ada hm seperti di nirwana. Oh iya di Belanda sini daun rabarber yang bentuknya seperti pohon talas, dan biasanya sering dibuat cake. Tapi yang dipakai bukan daunnya melainkan batangnya. Rasanya asam sekali.  Batang rabarber itu dihancurkan lalu dicampur terigu, telur dan sebagainya lalu dipanggang dan disantapnya dengan slagrom yang manis gurih. Hari itu kebetulan Ida membuatkan bubur rabarber yang dimakan dengan yogurt.  Katanya sih gak boleh sering makan rabarber, karena bisa mengurangi kalsium kita.  Sepulangnya aku dari rumah Ida dalam perjalanan aku merasakan bahwa betapa baiknya Indah dan Chiel yang menerima aku selama 3 bulan menginap di rumahnya, makan dan tidur gratis bahkan diajak jalan-jalan jauh melihat kota dan tempat-tempat indah di Belanda.  Aku sama sekali tidak pernah membayangkan hal ini.  Bagaimana nanti aku membalas kebaikan mereka?? Ah biarlah semesta yang akan membalas budi baik mereka. Semoga kedatanganku ke tempat ini membawa barokah yang baik buat keluarga ini.  Amin

pohon rabarber. 
kue dari rabarber.

Mencoba Ikan Haring di Volendam





Pagi hari itu kita akan menjemput Aminah dan Dick untuk mengantar mereka ke Schipol, karena mereka mau holiday ke Indonesia.  Setelah dari Schiphol kita pergi lagi ke Zaanse Schans mengantar Nani ke sana, karena selama liburan di NL ini dia belum pernah menjejakan kakinya ke sana. Dari Zaanse Schans kita pergi ke Volendam.  Setelah belasan tahun menapakkan kaki di Volendam, akhirnya hari itu aku bisa kembali lagi melihat kota pelabuhan ini.  Rasanya semuanya belum berubah. Pelabuhan dan burung-burung yang berterbangan. Jajaran kios souvenir, restoran, cafe, dan tempat berfoto dengan kostum nelayan Volendam berjejer di pinggir jalan.  KIos-kios yang menjual ice cream, dan makanan laut seperti ikan haring yang kondang itu pun masih banyak kita temui di sini.Melihat Nani ingin berfoto dengan kostum nelayan Volendam, aku pun ingin lagi berfoto dengan kostum itu. Bayarnya 13 euro. Sayang baru masuk ke studio udah disambut 2 orang perempuan, yang satu fotografernya dan yang satu lagi yang memakaikan baju plus pengarah gaya. Huh jadi gak enak, karena gayanya mereka yang ngatur.  Jadi gak bebas in action. Setelah dijepret lalu kita pun harus menunggu setengah jam sampai fotonya jadi.   

Selama menunggu foto selesai, kita jalan-jalan melihat pelabuhan dan kapal-kapal yang berlayar. Sementara banyak sekali burung-burung yang hinggap di pagar. Di saat itu pun aku melihat Chiel membeli ikan haring mentah yang dimakan dengan irisan bawang putih dan acar timun.  Wah sudah lama aku ingin mencoba makanan khas Belanda ini, tapi dulu-dulu aku selalu enggan, takut muntah. Tapi kali ini  aku tidak mau membuang kesempatan, aku pun mencoba.  Ikan haring segar sudah dipotong-potong, dimakan dengan irisan bawang putih dan acar timun. Hm...ternyata gurih. Lumayan enak juga. Setelah makan ikan haring, kita beli ice cream. Karena cuaca sangat panas jadi nikmat sekali makan ice cream sambil duduk ditiup angin laut sementara burung-burung beterbangan dan hinggap di dek kapal, di pagar,  di trotoar, di dahan pohon.....   Pemandangan laut yang bersih, indah, dan cukup menawan.  Volendam  belasan tahun yang lalu dan sekarang nyaris tak berubah.  Siang itu sebelum melanjutkan perjalanan aku habiskan sisa ice creamku, seperti biasa aku memesan ice cream mango, hm....nikmatnya.


Selasa, 10 April 2012

Bronkkorst, kota paling mungil.





Hari itu Nani dan aku diajak Indah dan Chiel ke Zutphen.  Karena Nani memang belum pernah pergi ke sana.  Di centrum Zutphen kita diajak ke kedai namanya Thee Pelican yang sangat terkenal. Di toko ini khusus  menjual teh, kopi, coklat,  cangkir, teko, dan pernik dapur yang sangat unik.  Di dalamnya juga kita bisa langsung menikmati kopi atau teh yang dijual di tempat itu. Desain interiornya, sumpah mati keren banget!  Kata Indah, toko ini pernah memenangkan penghargaan.   Suasana di Zutphen saat itu sangat ramai sekali, karena bertepatan dengan Worl Cup sehingga banyak kita temui orang-orang sedang menonton pertandingan bola.  Hari itu tengah berlangsung pertandingan antara Belanda melawan Denmark.  Suasana kota yang biasanya sunyi pun jadi meriah dan rame oleh tiupan terompet.  Semuanya berubah menjadi hingar bingar. Di Zutphen kala musim semi  di mana-mana aku melihat bunga-bunga mawar bermekaran.  Gila, bunga mawarnya besar-besar dengan aneka warna yang cantik jelita; ada yang merah merona, pink, putih, kuning, semuanya sungguh mempesona!  Belum lagi kebanyakan bunga-bunga itu merambat di tembok rumah, sangat romantis!!!!   Aku selalu terpana melihat keindahan mawar-mawar yang bermekaran di mana-mana. Luar biasa menawan. Termasuk bunga mawar tetangga Indah  dengan warna merah menyala  bergerombol jatuh menjorok ke teras rumah. Sulit menggambarkan kecantikannya! Sunguh,  seperti dalam film-film romantis Inggris! 

Setelah puter-puter kota Zutphen, kita pun diajak ke daerah Bronkhorst  yang merupakan kota terkecil di Belanda.  Kotanya sepi....bangunan rumahnya mungil-mungil  dan sungguh cantik.  Di Bronkhorst ini  terdapat  museum Dickens. Saat aku asik mengitari daerah ini, ntah bagaimana aku menemukan sebuah kotak berisi buku yang dijual murah di depan salah satu rumah di sana, saat melihat  itu aku merasa  mengalami deja vu. Anehnya di sebelah rumah itu aku membaca sebuah plang yang bertuliskan Huis Vier Linden yang artinya rumah dengan 4 pohon linden.  Saat itu pula aku baru tahu yang namanya pohon linden.  Masyaallah pohon linden yang pernah aku baca dibukunya Nirwan Dewanto, ternyata ini toh sosoknya.   Daun linden ini katanya memiliki harum yang khas jika dibuat teh.  Begitulah setelah memutari daerah Bronkhorst yang mungil tapi cantik ini  kita pun pulang. Sepulangnya dari sini kita melewati  kota Arnhem.  Kota Arnhem indah sekali. Masih ada trem yang bersliweran di dalam kota seperti di Den Haag, delft, dan Scheveningen.  Kota Arnhem lebih hidup dari pada kota Maastricht.  Sepulang dari situ waduh badan rasanya rontok.Hari itu kita gak kemana-mana alias di rumah aja. Cuaca kadang bermatahari kadang hilang, tapi angin tetap dingin.  Enak juga sih istirahat, setelah kemaren jalan terus seharian.

























































Selametan di Hoorn



Dari  Zaanse Schans kita meluncur lagi ke rumah Nani di Hoorn, karena ada selamatan cucunya yang baru lahir.  Sampai rumah Nani orang-orang udah banyak yang datang.  Wah aku gak nyangka sebuah pesta beneran dengan tenda putih yang menampung banyak orang.  Satu diantaranya Enny (temen lamaku di JWT), dia datang dari Belgia.  Aku gak nyangka bisa ketemu Enny di tempat ini.  Hehehe ternyata dia sudah 5 tahun tinggal di Brussel.Di rumah pasangan Nani  dan Ruud ini suasana begitu ramai.  Anehnya aku tidak merasa terasing, karena di sini banyak sekali teman yang sudah aku kenal dan orang yang baru kukenal pun sangat menyenangkan. Pesta selamatan di sini disuguhin aneka makanan Indonesia, sambel goreng udang, tahu taoco pake paprika, nasi kuning, nasi putih, asinan, ayam goreng, sambal, kerupuk, balado telor wah banyak deh. Kue-kuenya pun istimewa...ada kue lapis, kue lapis kanji (kue pepe), lemet, dan bolu ijo.  Acara di pesta selamatannya meriah sekali, Nani dan Dewi menggunakan pakaian sexy dan wig lalu mereka menari mengelilingi tamu. Selain itu para bapak dan ibu-ibu yang datang dari berbagai tempat ini berdansa.  Ada juga yang karaoke.  Gak terasa hari pun mulai gelap kita pun pamit pulang.  Hoorn ke Hilversum memakan waktu kurang lebih satu jam dan sampai rumah sudah  jam satu pagi.  Hah capek juga

Tempatnya Kincir Angin di Zaanse Schans.







Hari itu aku, Dewi, Emmy, diajak Indah pergi ke Zaanse Schans, tempat yang banyak terdapat kincir angin.  Aku belum pernah menginjak tempat ini sebelumnya.  Kita berlima berangkat jam setengah satu siang.  Aku gak tau bagaimana situasi di Zaanse Schans. Ternyata pas sampai di sana....anginnya luar biasa kencangggg dan dinggin.  Wah saat itu aku bener-bener saltum, untung Emmy minjemin jaketnya.  Zaanse Schans adalah tempat yang unik.  Di sana kita melihat  banyak kincir angin di tepi laut, rumah-rumah penduduk yang kecil seperti rumah petani,  bakkerij tradisional,  tempat membuat keju,  semuanya sudah dimakan umur alias tua, tapi sangat menarik.  Menginjak tempat itu kita langsung disapa oleh aroma cokelat yang harum  (belakangan aku baru tahu ternyata tak jauh dari situ memang ada pabrik cokelat yang cukup besar).  Di tempat ini kita bisa menyaksikan  pembuatan keju bahkan kita pun boleh mencoba aneka keju yang lezat.  Sungguh banyak jenis keju yang bisa kita nikmati ; ada keju dengan merica, ada smoke keju alias gerokte kaas,  keju tua, keju sambal,  keju muda, 
wah pokoknya  banyak sekali deh dan rasanya hm..... lekker!

Di Zaanse Schans ini kita juga bisa melihat  pembuatan klompen yang jadi trade mark-nya Belanda, di tempat ini juga  sekaligus toko souvenir.  Jadi kalau mau beli aneka klompen dari yang kecil sampai yang besar, dari yang terbuat dari kayu sampai keramik ada semua.  Oh iya biaya masuknya di atas setengah jam dikenai 7 euro. Zaanse Schans seperti sebuah perkampungan yang masih kuno (memang sengaja dipertahankan untuk obyek wisata). Rumah-rumah di sini mungil-mungil dengan gaya yang masih tradisional.  Jendela yang kuno.  Terasnya mungil dengan bangku-bangku antik. Di sampingnya ada halaman tempat penghuni rumah berkebun.  Dan di depan rumah-rumah tersebut dialiri sungai kecil dengan jalan setapak yang ditumbuhi pohon-pohon willow di pinggirnya.  Angsa dan bebek pun  berenang di situ. Belum lagi jembatan kayu di depan rumah-rumah mereka sungguh menjadi pemandangan yang menarik dan cantik!!!   Di Zaanse Schans ini  kita  juga masih bisa menemui rumah pembuat mustard yang kuno. Botol dan labelnya  pun  masih terkesan kuno, tapi sudah pasti mustard original dari sini  udah pasti lekker!!




Nonton Arthur Manggung di Huizen

Di belakang rumah Nur : Indah, Ani, dan Dewi.
Sampainya  dari Utrecht udah sore. Kita harus bersiap-siap lagi ke Huizen mau lihat Arthur (anaknya Nuraini) manggung dengan bandnya. Aku, Indah dan Dewi berangkat menjemput Ani Suwandi lalu kita berempat menjemput Nuraini di rumahnya. Rumah-rumah di Belanda gak ada yang berantakan. Semuanya resik  termasuk rumah si Nur ini. Di halaman belakang rumahnya kita ngopi en ngeteh dulu, baru kita berangkat ke Huizen. Sampai di tempat pertunjukan suasana masih sepi.  Mungkin bersamaan dengan pembukaan World Cup jadi orang-orang lebih suka menonton pembukaan di teve.  Jam 21 malam baru tempat itu dibuka. Sebuah ajang untuk anak-anak muda beraktivitas yang nonton cuma sedikit. Ah untung ada ibu-ibu alias temen-temennya Nuraini yang meramaikan suasana. Musiknya bener-bener keras. Aku susah menikmatinya, karena aku pikir antara melodi dan alat musik gak jelas harmonisasinya. Ah mungkin memang gak nyambung aja sama seleraku. Duh...awalnya sih jantung berdebar saking keras musiknya, tapi lama-lama jadi biasa juga. Setelah anaknya Nuraini selesai manggung lalu disambung musik disco dengan DJ.  Nah ibu-ibu yang datang pada turun semua nari poco-poco. Seru. Dan acara berakhir jam dua belas kita semua pun pulang ke rumah.


Arthur in action




Bilthoven






Utrecht kalau mendengar nama kota ini aku selalu ingat jaman kuliah dulu. Aku punya teman pena yang kuliah di sini. Dia tinggal bersama orang tua angkatnya seorang profesor di daerah Bilthoven. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa daerah itu? Dan kini aku diajak Indah pergi ke Utrecht. Aku pun bilang pada Indah aku ingin melihat daerah Bilthoven dong. Indah pun setuju. Sebenarnya rencana Indah dan Chiel pergi  ke sana untuk mengambil mobilnya yang sudah selesai diperbaiki di daerah Utrecht, kalo gak salah nama daerahnya De Bilt.  Perjalanan ke De Bilt, ini  mata banyak dimanjakan oleh pemandangan bunga-bunga yang cantik sepanjang jalan. Mobil sedan volvo yang konon sudah berusia sekitar 20 tahun tapi masih kelihatan bagus dan kokoh itu pun dibawa pulang ke rumah. Chiel yang menyetir sementara Indah dan aku naik mobil Renault Espace.  Sepulang dari situ  aku diajak ke Bilthoven. Duh ini tempat yang sudah belasan tahun ingin aku sambangi, tapi ternyata baru sekarang bisa tercapai. Bilthoven, rumah-rumahnya bagus. daerahnya enak. Banyak villa alias rumah orang kaya dengan halaman besar.  Dari Bilthoven aku diajak melihat daerah  orang-orang kaya, namanya Bosch en Duin.  Daerah ini lebih gila lagi rumahnya semua besar-besar halamannya pun luar biasa besar.  Dari namanya Bosch itu artinya hutan. Jadi rumah-rumah besar berhalaman luas ini berada dalam area hutan. Tapi bukan hutan yang seram, ini kan hutan yang dibuat untuk paru-paru kota. Daerahnya tertata apik, bersih, tenang. Gila Belanda emang gak ada matinya dalam soal tata kota. Mungkin karena negara mereka kecil jadi semua harus ditata. Di daerah Bosch en Duin ini kita biasa melihat orang naik kuda. Ini benar-benar daerah elite! Dari Bosch en Duin kita makan di resoran IKEA di kota Utrecht. Kami memesan ikan, kentang, dan sayuran.  Restoran di IKEA ini harga-harganya sangat terjangkau. Setelah kenyang....kit aharus segera pulang karena nanti malam kita akan ke Huizen. Selamat tinggal Utrecht yang mempesona.