Selasa, 17 Mei 2011
Kangen.
Tiba-tiba ingat puisinya WS. Rendra yang ciamik. Kangen ibu dan bapakku.
Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta.
Kau tak akan mengerti segala lukaku
Karena luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti aku tungku tanpa api.
Senin, 16 Mei 2011
Berkunjung ke Amersfoort
Tak lama setelah itu, hari itu aku gak mandi, kita pergi ke Amersfoort. Di sana kita akan bertemu dengan Eci, perempuan asal Maluku yang menikah dengan pria Belanda. Eci orangnya ramah. Rambutnya panjang keriting. Suasana rumahnya terasa hangat. Halaman belakang yang biasa bagi orang Belanda dijadikan kebun dibuat suasana seperti cafe di Bali dengan sofa dari rotan dan bantalan yang empuk. Pot-pot bunga dan lilin. Eci mengundang kita dan dia menyajikan barbeque. Dia membuat salad sayur dan salad kentang. Tak lama kemudia datang lagi temennya Eci bernama Dewi dan 3 orang anaknya. Dewi membawa daging babi yang sudah dibumbui. Jadilah 3 macam daging untuk barbeque: ayam, kambing dan babi. Suasana jadi meriah, karena tak lama kemudian datang lagi temen mereka yaitu Herna yang juga menikah dengan pria Belanda. Suami Eci yang seharusnya masih ada kerjaan di luar, lalu datang untuk membantu membakar daging. Dia juga yang sibuk cuci piring setelah makanan selesai. Suami Eci yang bertubuh tinggi ini orang Belanda yang amat suka dengan lagu-lagu Indonesia. Koleksi cd-nya kebanyakan lagu-lagu Indonesia, mulai dari Sheila Majid, Marcell, Utha Likumahua...wah banyak sekali. Katanya Eci, dulu waktu musim kaset, kalo pulang dari Indonesia dia bisa membeli kaset sebanyak 70 biji untungnya di imigrasi gak diperiksa. Eci punya seorang anak laki-laki yang wajahnya lebih dominan ke ibunya. Kulitnya pun gelap dengan rambut kribo seperti Michael Jackson. Rumah-rumah di Belanda sungguh menarik bagiku. Setiap daerah beda-beda. Walau pun kecil-kecil tapi bentuknya cantik dengan pembagian ruangan yang sangat efisien.
Sehabis makan, aku diajak jalan melihat centrumnya Amersfoort. Karena hari sudah menjelang malam jadi toko-toko sudah tutup, tapi cafe dan resto masih banyak yang buka. Di Amersfoort ini juga ada benteng yang dulunya mungkin untuk membentengi kota itu. Di dalam benteng itu banyak kita temui bangunan rumah yang sudah berusia ratusan tahun dan masih terawat dengan baik. Ada yang masih dihuni tapi ada juga yang sudah dijadikan toko atau cafe. Di centrum ini juga ada gereja dengan menaranya yang tinggi yang konon merupakan tengah-tengah dari kota Nederland. Di alun-alun centrum ini banyak orang yang menikmati makanan dan minuman di teras cafe atau restoran. Walau hari terus beranjak gelap kami terus berjalan menyusuri jalan dan gang yang rasanya sulit untuk diucapkan, begitu indah dan menarik
Belanja yuk belanja.
Pagi kemaren sekitar jam 9.30 kita berencana mau ke pasar kaget di Hilversum. Pasar seperti ini memang hanya ada di hari Rabu dan Sabtu letaknya deket centrum. Bangun pagi aku langsung minum teh (kebiasaan selama di sini dan aku biasa minum teh sosro yang aku bawa dari Jakarta) lalu makan roti habis itu aku ganjal lagi dengan minum segelas susu untuk bahan bakar menggenjot sepeda. Pagi itu cuaca sangat cerah. Matahari bersinar dengan terang. Udara pun terasa hangat. Hari seperti ini orang-orang di sini sudah melepas jaket dan syalnya, tapi aku masih harus memakai jaket dan syal untuk menghalau angin. Karena cuaca sangat indah ntah bagaimana juga mempengaruhi mood. Selama hampir sebulan di sini aku sudah mulai mengetahui slag menggenjot sepeda. Aku tidak lagi terlalu bersemangat di awalnya, tapi sepeda kugenjot pelan tapi konstan. Sepeda yang aku naiki memang ada verseneling otomatis. Kadang suka ngeri juga ketika sampai di jalan dengan mobil di sebelah kiri dan jalur sepeda sempit hanya kurang lebih 5 jengkal dan itu pun juga masih harus berbagi dengan sepeda-sepeda lain. Aku suka takut jatuh juga.Tanpa terasa kita sampai di pasar. Pasarnya memang baru buka. Di pasar sini dijual aneka bunga dan bunganya pun tergantung musimnya. Selain itu juga ada tanamanan, mulai dari tanaman sayur, bumbu-bumbu sampai jagung manis yang semua dijual dalam ukuran yang masih kecil, mungkin baru sejengkal tangan. Selain itu di pasar ini juga banyak digelar pakaian, t-shirt, celana panjang dengan versi pasar tentunya. Aneka pernik tanaman dan bunga seperti keranjang rotan, vas bunga, aneka lilin dan tempatnya yang cantik, lampu taman. Wah sepertinya orang-orang Belanda suka sekali pernik seperti ini. Keranjang rotan itu di cat warna putih atau abu-abu. Selain itu ada juga pedagang ikan, keju, buah-buahan. Dan yang menurutku unik ada salah satu pedagang asal Suriname yang menjual singkong (dengan masih ada kulitnya sementara kalo beli di supermarket besar singkong sudah dikupas dan dikukus lalu dibekukan), lalu ada labu, ubi, oyong, sayuran, pokoknya dagangan yang dijual oleh orang Suriname ini bener-bener seperti yang biasa kita liat di Indonesia. Di kedai pak Suriname ini Indah membeli ubi. Hari itu Indah juga membeli 2 potong nanas yang sudah dikupas seharaga 1 euro lebih (dulu katanya nanas ini termasuk buah tropis yang eksklusif tapi sekarang sudah tidak lagi), beli buah stroberi, lampu taman dan lilin untuk diberikan kepada temannya di Amersfoort. Ia juga membeli asparagus dan beberapa tanaman sayur. Keranjang sepedanya di kiri kanan penuh dengan barang belanjaan. Kita pun meluncur pulang. Sampai di rumah kok kepala kliyengan ya??? Ah akhirnya bikin teh anget lagi dan makan pisang. Ditambah lumpia yang dimakan dengan sambal botol. Hm...yummy!
Ke hutan yang cantik
Hari ini belum ada rencana. Mungkin nanti jalan-jalan aja ke hutan. Hari ini masih dingin aja. Mendung masih saja menggayut di langit. Udara yang dingin membuat malas mandi. Barusan makan sedikit nasi, karedok, dan pepes ikan sisa pesta kemaren di Hoorn, tapi enak juga loh. Jika matahari tidak muncul suasana hati jadi gloomy. Gak kebayang selama 8 bulan merasakan hari tanpa matahari???Tadi pagi iseng ...setrika baju. Setrikaan gak banyak. Habis selesai setrika terus mau ngapain yaaa??? Kok gak ada ide gini???? Matahari keluar masuk aja. Sebentar terang, sebentar hilang. Hilang datang hilang datang. Di sini memang cuaca sering berubah. konon yang pasti hanya 3 yaitu: angin, dingin, dan hujan.Melihat Indah tinggal di pinggir hutan. Hutannya sangat bersih tak ada sedikit pun sampah yang terlihat. Pohon yang rubuh melintang pun tak kita temui. Jika kita akan memotong dahan pohon biasanya kita minta jasa pemotong pohon yang memang memiliki keahlian khusus. Jasa mereka memang gak murah. Misal, kata indah, untuk memotong satu batang pohon aja, tarifnya 1.700 euro, tapi peralatan mereka sangat canggih dan rapi. Setelah mereka bekerja memotong pohon tak ada kotoran atau sisa dahan pohon atau daun yang tersisa
Hari itu cuaca mulai bagus. Aku berniat untuk jalan-jalan sendiri ke hutan. Aku berjalan menyusuri jalan mengikuti langkah kaki. Kadang di jalan aku temui orang-orang yang naik sepeda mau pergi ke sekolah ke tempat kerja atau sekedar berjalan-jalan menikmati cuaca yang cerah. Sampai kutemui lapangan golf di tengah hutan, padang gandum, rumah penjaga hutan yang cantik, sungai yang bening ( selokan lebih tepatnya) dengan bayangan pohon yang membayang di airnya yang jernih, bebek-bebek yang berenang di air, burung-burung, bahkan kuda-kuda di lapangan rumput yang hijau. Hm seperti di negeri dongeng cerita HC Andersen. Aku senang sekali bisa menemukan keindahan ini dan aku sangat berterima kasih pada semesta bisa melihat semua ini. Semakin jauh semakin jauh aku melangkah sampai akhirnya aku tersadar takut kesasar pulang. Akhirnya kusudahi petualanganku masuk ke hutan pagi itu. Esok aku berjanji akan kembali menyusurinya
Mampir Ke rumah Ida di Benningbroek
Dari tempat tinggal Irma kita melaju lagi ke rumah Ida di Benningbroek. Rumah Ida terletak di pinggir jalan, di seberangnya padang rumput tempat kuda-kuda merumput. Di tempat ini dia hidup sendiri karena suaminya sudah meninggal. Kebun di belakang rumahnya luas sekali dan bagus. Rumahnya sendiri sangat kuno. Loteng atau lantai atas rumahnya seperti dalam film-film horor, gelap dan masih tercium ruangan yang tak berpenghuni. Di loteng itu tersimpan barang-barang kuno peninggalan orang tua suaminya Ida. Bahkan di sana masih tersimpan boks bayi bekas suaminya Ida waktu kecil. Huh gak kebayang usia boks itu udah 86 tahun! Lantai loteng terasa hangat karena terbuat dari kayu. Tanah di rumah Ida kelihatan subur karena bunga peony tumbuh dengan bagusnya. Di sini aku baru tahu yang namanya bunga Peony, orang Belanda menyebutnya Peon Rose, sangat indah dan harum baunya. Sayang hari sudah mulai gelap, sudah jam 11 malam. Aku tak bisa mengeksplore halaman belakang rumah Ida yang luas. Kita pun pulang. Dalam perjalanan pulang aku sempet tertidur di mobil. Sampai rumah udah ngantuk, tapi herannya pas udah naik ke atas dan berada di tempat tidur kok mata gak bisa dipejamkan?? Akhirnya tidur bangun tidur bangun. Jam 2 pagi gak terasa bablas juga, bangun-bangun jam 7.40 pagi.
Minggu, 15 Mei 2011
Pesta di Hoorn
Hari minggu ini ramalan cuaca mengatakan akan hujan. Dan memang dari pagi ujan sudah mulai turun. Pagi-pagi aku bikin misro, tepung singkong yang didalemnya diisi gula merah. Enaknya di sini singkong gak usah marut. Karena udah banyak dijual singkong yang udah diparut dan kelapa yang juga udah diparut, jadi tinggal campur aja dikasih garam sedikit plus air lalu dipulung dikasih gula merah di dalamnya lalu digoreng beres deh. Indah bikin moschou yaitu tart yang banyak disukai orang-orang Belanda. Caranya simpel, krem dan gula dikocok lalu masukkan keju buat kue terus dikocok pelan hanya untuk tercampur rata aja. Lalu biskuit marie yang udah dihancurkan di taruh di loyang sebagai dasar dan adonan yang tadi diletakkan diatasnya lalu disemir dengan moschou kaleng (seperti selai dengan buah ceri yang masih utuh) lalu diamkan di dalam kulkas. Sekitar jam satu siang kita berangkat ke Hoorn kurang lebih satu jam dari Hilversum. Perjalanan walau hujan tapi cuaca lumayan terang. Di jalan kita banyak menyaksikan orang-orang bersepeda, berkano, atau jalan kaki walau hari hujan. kok gak takut masuk angin ya?? Kata indah, yaa...daripada mereka sumpek di dalam rumah mending mereka ke luar rumah walau hujan turun. perjalanan dari hilversum ke hoorn walaupun memakan waktu satu jam tapi hampir tidak terasa. karena gak ada macet dan jalanan mulus, dan pemandangan bagus. Sampai di sana (nama jalannya De Wieken) tuan rumah sudah menyiapkan banyak makanan seperti sate ayam dan kambing lengkap dengan bumbu kacang dan sambal kecap tomat, jeruk nipis, dan cabe rawit juga tahu taoco, kering tempe, karedok yang rasanya yummy, lambchop...wah lekker. Tapi semua itu gak bisa langsung disantap, kita masih harus menunggu jam makan malam yaitu sekitar jam tujuh malem. Sementara perut udah keroncongan. Untuk ngeganjel perut akhirnya disumpel aja dulu dengan teh. Segelas teh tandas tambah lagi. Bosen minum teh ganti dengan segelas jus orange plus sebuah martabak telor dan 2 biji misro yang dibawa dari rumah. Saat itu udara terasa rada dingin. Oh iya rumah Irma ini bergaya rada modern. Hal itu bisa dilihat dengan banyak sentuhan stainless steel. Isi rumah tertata apik. Aku sempat melihat kamar mandi tuan rumah yang terletak di lantai atas, sungguh perfect! Dan yang mengagumkan lagi ternyata semua itu dikerjakan sendiri bersama suaminya. Suaminya Irma membuat sendiri lampu dan kran dari stainless steel. Hebat euy semua orang di sini (mungkin karena terpaksa) jadi banyak yang pandai menukang. Eduuunnn.Hari tu udara begitu dingin.Untuk mengusir dingin, aku coba ikut-ikutan bakar sate dan lamb chop. Lmayan hangat walau baju bau sate. Wah makan di sini sungguh lekker, maklum yang bikin ibu-ibu jago masak. Ngobrol punya ngobrol gak terasa waktu sudah menujukkan jam 10 malam.
Ulang tahun Aminah
Hari ini tadinya mau ke Zutphen, tapi gak jadi. Karena Indah capek. Akhirnya kita di rumah aja. Aku bantuin setrika pakaian yang tidak terlalu banyak, sambil menghangatkan badan. Indah mengepel, bersihin kamar anaknya, ngelap kaca, bersihin pintu-pintu. Waduh aku jadi gak enak nih. Nanti siangan mau ada rencana belanja di Kerkelanden dan melihat pasar malam kecil di daerah Hilversum terus sorenya ke ulang tahun temennya Indah, namanya Aminah. Akhirnya kita gak jadi belanja di Kerkelanden, tapi di Centrum. Belanja naik sepeda jalan menanjak menuju centrum membuat napasku tersengal-sengal. Karena masih saja belum terbiasa hehehehe. Di Hilversum sempet melihat bazaar ( bazaar on the street). Ada yang jualan baju, makanan, sepatu, hiburan, sampai mainan anak-anak seperti merry go around dan tornado tapi versi ringannya. Bazaar di gelar di sepanjang jalan deket centrum. Sehabis dari situ aku dan Indah belanja di Albert Heijn (Hero-nya Belanda), yang ada di mana-mana di negeri Belanda. Pulang dari belanja....weleh kok cape banget yak.
Sore sekitar jam 5 sore, kita berangkat naik sepeda ke rumah Aminah padahal paha belum selesai pegelnya en kepala rada kliyengan bow! Sebelum genjot sepeda aku makan pisang dulu untuk nambah energi. Perjalanan ke rumah Aminah awalnya memang datar, tapi agak lama jalan mulai menanjak hehe ...genjotan yang tadinya semangat mulai melemah. Napas ngos-ngosan. ...hehe, kalau mau mengaso itu bukan cara yang bagus. Karena sepeda ini makin digenjot sebenernya makin ringan. Ah...akhirnya sampai juga di rumah Aminah,tamu-tamu udah mulai berdatangan. Ada yang datang naik mobil ada juga yang naik sepeda. Aku melongok di dapur, makanan banyak sekali. Bikin ngiler ada bami goreng, ayam panggang, nasi kuning, dan banyak lagi, tapi dari semua yang paling menggoda adalah sambal terasi yang kelihatan sangat menggiurkan. Pertama datang kita ditawarkan aneka tart atau cake lalu seperti biasa, kopi atau teh, wine atau bir. Kopi dan teh biasa disajikan dengan susu, tapi bisa juga tidak, sesuai selera aja. Jam makan malam biasanya dimulai jam 7 malam. Menurut ramalan cuaca memang hari itu akan hujan, tapi untungnya pas sampai situ hujan baru turun. Tamu yang tadinya duduk di teras belakang menghadap kebun, lalu pindah ke dalam. Suasana jadi rame dan meriah. Oh iya kebanyakan yang datang adalah teman-teman tuan rumah yang rata-rata beristrikan orang Indonesia sementara suami mereka orang Belanda atau Indo Belanda, tapi ada juga yang beristrikan orang Jepang. Dari situ aku mengenal banyak karakter orang. Ada yang suka bicara blak-blakan dengan topik yang vulgar, ada yang lebih lembut dengan pembicaraan yang lebih dalam. Semua orang itu akhirnya nanti akan terseleksi sendiri. Di dalam pertemuan itu aku mengenal sosok wanita Jepang bernama Keiko yang bersuamikan orang Belanda. Sebelum tinggal Belanda ia pernah tinggal di Inggris. Seperti layaknya wanita Jepang, Keiko sangat santun. Bicara dengannya sangat menyenangkan. Dia cerita, bahwa cuaca di Belanda ini membuatnya depresi. Karena 4 bulan cuaca enak, lalu yang 8 bulan cuaca gak bagus dan itu membuatnya depresi. Saat ini dia sudah tinggal di Belanda selama puluhan tahun. Dulu, katanya pertama kali ke Belanda...dia merasa senang. "karena saya kan masih muda, tapi sekarang 'mata' saya berubah. Saya merasa gak bahagia," katanya. "Dua kaki saya seperti berjalan tak seiring yang satu menapak di Belanda sedang yang satu lagi di Jepang. Lama-lama saya capek makanya suatu hari nanti saya mau pindah dari sini," katanya. Keiko berubuh kecil dengan rambut pendek. "Dulu rambut saya panjang dan suka dikelabang. Orang menyangka saya orang Indian dari Amerika Selatan. ....hehehe." katanya sambil tertawa. Kalau dilihat-lihat Keiko memang seperti orang Indian. Keiko mempelajari reiki untuk mengobati diri sendiri. Sejak dia belajar reiki katanya intuisinya jadi makin tajam.
Oh iya, di sini aku juga bertemu dengan orang Indonesia berdarah Ambon, namanya Paul, yang baru saja menikah dengan wanita asal Indonesia. Istrinya seorang dokter gigi. Paul sebelum menikah dengan Sisca, nama istri barunya, telah memiliki 2 orang anak dari istri pertamanya yang sudah meninggal. Sisca sangat peduli dengan masalah pendidikan. Di Belanda yang kata Sisca, disiplinnya kurang bagus. "Bayangin, anak berangkat sekolah lalu gak lama kemudian sudah pulang, karena gurunya tidak masuk. Jadi setiap hari kita harus buka email untuk menge-cek apakah hari itu ada pelajaran tau tidak. Karena guru bisa aja tiba-tiba tidak bisa masuk mengajar," katanya. Wah ini aku juga baru tahu. "Belum lagi kalau ada tes atau ujian. Anak udah belajar, tiba-tiba besoknya si guru gak masuk. Tes ditunda. Duh ini aneh banget. Kalau di Indonesia yang namanya anak ujian itu kan udah ada jadwalnya,"kata Sisca lagi.Dia juga cerita tentang tes bahasa Belanda. Bagaimana pemerintah Belanda memberikan subsidi untuk mereka (pendatang) yang tinggal di Belanda untuk mempelajari bahasa Belanda.Tanpa terasa waktu udah jam12 malam. Kita pun pulang dengan menggenjot sepeda. Udara di luar dingin dan gerimis.
Sore sekitar jam 5 sore, kita berangkat naik sepeda ke rumah Aminah padahal paha belum selesai pegelnya en kepala rada kliyengan bow! Sebelum genjot sepeda aku makan pisang dulu untuk nambah energi. Perjalanan ke rumah Aminah awalnya memang datar, tapi agak lama jalan mulai menanjak hehe ...genjotan yang tadinya semangat mulai melemah. Napas ngos-ngosan. ...hehe, kalau mau mengaso itu bukan cara yang bagus. Karena sepeda ini makin digenjot sebenernya makin ringan. Ah...akhirnya sampai juga di rumah Aminah,tamu-tamu udah mulai berdatangan. Ada yang datang naik mobil ada juga yang naik sepeda. Aku melongok di dapur, makanan banyak sekali. Bikin ngiler ada bami goreng, ayam panggang, nasi kuning, dan banyak lagi, tapi dari semua yang paling menggoda adalah sambal terasi yang kelihatan sangat menggiurkan. Pertama datang kita ditawarkan aneka tart atau cake lalu seperti biasa, kopi atau teh, wine atau bir. Kopi dan teh biasa disajikan dengan susu, tapi bisa juga tidak, sesuai selera aja. Jam makan malam biasanya dimulai jam 7 malam. Menurut ramalan cuaca memang hari itu akan hujan, tapi untungnya pas sampai situ hujan baru turun. Tamu yang tadinya duduk di teras belakang menghadap kebun, lalu pindah ke dalam. Suasana jadi rame dan meriah. Oh iya kebanyakan yang datang adalah teman-teman tuan rumah yang rata-rata beristrikan orang Indonesia sementara suami mereka orang Belanda atau Indo Belanda, tapi ada juga yang beristrikan orang Jepang. Dari situ aku mengenal banyak karakter orang. Ada yang suka bicara blak-blakan dengan topik yang vulgar, ada yang lebih lembut dengan pembicaraan yang lebih dalam. Semua orang itu akhirnya nanti akan terseleksi sendiri. Di dalam pertemuan itu aku mengenal sosok wanita Jepang bernama Keiko yang bersuamikan orang Belanda. Sebelum tinggal Belanda ia pernah tinggal di Inggris. Seperti layaknya wanita Jepang, Keiko sangat santun. Bicara dengannya sangat menyenangkan. Dia cerita, bahwa cuaca di Belanda ini membuatnya depresi. Karena 4 bulan cuaca enak, lalu yang 8 bulan cuaca gak bagus dan itu membuatnya depresi. Saat ini dia sudah tinggal di Belanda selama puluhan tahun. Dulu, katanya pertama kali ke Belanda...dia merasa senang. "karena saya kan masih muda, tapi sekarang 'mata' saya berubah. Saya merasa gak bahagia," katanya. "Dua kaki saya seperti berjalan tak seiring yang satu menapak di Belanda sedang yang satu lagi di Jepang. Lama-lama saya capek makanya suatu hari nanti saya mau pindah dari sini," katanya. Keiko berubuh kecil dengan rambut pendek. "Dulu rambut saya panjang dan suka dikelabang. Orang menyangka saya orang Indian dari Amerika Selatan. ....hehehe." katanya sambil tertawa. Kalau dilihat-lihat Keiko memang seperti orang Indian. Keiko mempelajari reiki untuk mengobati diri sendiri. Sejak dia belajar reiki katanya intuisinya jadi makin tajam.
Oh iya, di sini aku juga bertemu dengan orang Indonesia berdarah Ambon, namanya Paul, yang baru saja menikah dengan wanita asal Indonesia. Istrinya seorang dokter gigi. Paul sebelum menikah dengan Sisca, nama istri barunya, telah memiliki 2 orang anak dari istri pertamanya yang sudah meninggal. Sisca sangat peduli dengan masalah pendidikan. Di Belanda yang kata Sisca, disiplinnya kurang bagus. "Bayangin, anak berangkat sekolah lalu gak lama kemudian sudah pulang, karena gurunya tidak masuk. Jadi setiap hari kita harus buka email untuk menge-cek apakah hari itu ada pelajaran tau tidak. Karena guru bisa aja tiba-tiba tidak bisa masuk mengajar," katanya. Wah ini aku juga baru tahu. "Belum lagi kalau ada tes atau ujian. Anak udah belajar, tiba-tiba besoknya si guru gak masuk. Tes ditunda. Duh ini aneh banget. Kalau di Indonesia yang namanya anak ujian itu kan udah ada jadwalnya,"kata Sisca lagi.Dia juga cerita tentang tes bahasa Belanda. Bagaimana pemerintah Belanda memberikan subsidi untuk mereka (pendatang) yang tinggal di Belanda untuk mempelajari bahasa Belanda.Tanpa terasa waktu udah jam12 malam. Kita pun pulang dengan menggenjot sepeda. Udara di luar dingin dan gerimis.
Langganan:
Postingan (Atom)

